Sebilah Pedang Perak dan Caping Berkain; oleh Kaylei

0

Sebilah Pedang Perak dan Caping Berkain


***



Tak lagi berulang, kisah silam terhenti,

Delapan abad lamanya, di titian merah membentang mereka terdampar sunyi

Bak sandiwara ria di griya penuh mimpi, sorak sorai membahana menyaksikan tontonan fana

Tanpa sadar, pasak menggantung keinginan membubung tinggi tak terkira

Menelan nama yang terlupa dalam hampa

 

Tentang Bunga Putih,

Deru hujan merah membakar setidak–tidaknya lebih dari separuh bengkalai gudang senjata

Di bawah caping berkain tipis dan terpaan angin musim semi menyemir rambutmu

Ulurkan tangan, walau deraumu badai bergemuruh

Menghadapmu, bukan lagi pilihan, namun takdir yang luruh

 

Tentang Hujan Merah,

Bahwa ia membiarkan Bunga Putih menggunakannya sebagai batu pijakan

Jembatan yang dibakar setelah menyeberang, barangkali

Termasuk tulang–tulang mayat yang perlu terpijak untuk mendaki

Ataukah sebagai pendosa yang pantas terbantai sampai mati

 

Maka berlarilah,

Ke masa ketika nirwana bersemi, ketika benang-benang takdir tak terputus lagi

Saat dewa menancap belatinya, memaku peti mati dengan hujan merahnya

Kau pandanglah, wahai jiwa yang lara, sebagai tirta anugerah dari angkasa raya

Bagaimana denganmu, setiap hari seakan upacara janji suci, seperti pernikahan yang bersemi kembali








⁀➷ Catatan Kaylei

Hidayah yang muncul bahkan saat sebelum aku tontonan tgcf berakhir. DITAMBAH, aku menemukan lagu Jeff Satur yang Rain Wedding ini, semakin menjadi-jadilah luapan, buncahan, dan apalah itu namanya untuk menuliskan tentang si Tuan Crimson Rain Sought Flower beserta The Crown Prince of Xianle itu. Dan jujur aja, sampai detik ini aku gamon PARRRAHH.





Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)