Sebilah Pedang Perak dan Caping Berkain
Tak
lagi berulang, kisah silam terhenti,
Delapan
abad lamanya, di titian merah membentang mereka terdampar sunyi
Bak
sandiwara ria di griya penuh mimpi, sorak sorai membahana menyaksikan tontonan
fana
Tanpa
sadar, pasak menggantung keinginan membubung tinggi tak terkira
Menelan
nama yang terlupa dalam hampa
Tentang
Bunga Putih,
Deru
hujan merah membakar setidak–tidaknya lebih dari separuh bengkalai gudang
senjata
Di
bawah caping berkain tipis dan terpaan angin musim semi menyemir rambutmu
Ulurkan
tangan, walau deraumu badai bergemuruh
Menghadapmu,
bukan lagi pilihan, namun takdir yang luruh
Tentang
Hujan Merah,
Bahwa
ia membiarkan Bunga Putih menggunakannya sebagai batu pijakan
Jembatan
yang dibakar setelah menyeberang, barangkali
Termasuk
tulang–tulang mayat yang perlu terpijak untuk mendaki
Ataukah
sebagai pendosa yang pantas terbantai sampai mati
Maka
berlarilah,
Ke
masa ketika nirwana bersemi, ketika benang-benang takdir tak terputus lagi
Saat
dewa menancap belatinya, memaku peti mati dengan hujan merahnya
Kau
pandanglah, wahai jiwa yang lara, sebagai tirta anugerah dari angkasa raya
Bagaimana denganmu, setiap hari seakan upacara janji suci, seperti pernikahan yang bersemi kembali
⁀➷ Catatan Kaylei
Hidayah yang muncul bahkan saat sebelum aku tontonan tgcf berakhir. DITAMBAH, aku menemukan lagu Jeff Satur yang Rain Wedding ini, semakin menjadi-jadilah luapan, buncahan, dan apalah itu namanya untuk menuliskan tentang si Tuan Crimson Rain Sought Flower beserta The Crown Prince of Xianle itu. Dan jujur aja, sampai detik ini aku gamon PARRRAHH.

