Kacau, Tuan
Malam tak berjumpa cerah bumi timur
Koma eggan menemukan ujung titik berlajur
Kapal tiada mengindra dermaga alur
Adapun malu sebab kalah bertempur
Bukankah pernah lalui angkuhnya semesta dan seisi dunia
Sesudah kaset usang itu bersyair, dan sesudah menyaksikan senja terakhir
Bentala bertanya, “Mengapa terus menangis?”
‘Ku jawab, “Maaf, hari lalu terlalu bengis.”
Kenyataan bahwa diri bukanlah raksasa di tengah sagara gelap nan ramai
Bertumpu dari yang hanya peta ketahui ketika belum pernah melewati
Bak jenggala teduh kian habis terbabat tajamnya belati
Hingga semesta lelah berucap ‘hati–hati’
Namun, di sisi lain jagat raya saat kau pukul telak elok-ku
Ribuan bintang jatuh akan runtuh terburu
Murka sebab yang tak tahu harus angkuh
Menyampaikan bangga atas jiwa mereka tersentuh
Sekejap tergantikan oleh salam penyemangat tak tahu diri
Datang melalui ingar tanpa tulang dari anasir berlalu–lalang
Ini mengingatkanku tentang bengisnya hari lalu
Saat kau tahu aku tak mampu; membenahi kacaunya waktu
⁀➷ Catatan Kaylei
This was inspired by Last Twilight drama series. Aku masih kebayang perasaan pertama tahu perilisannya yang bikin aku langsung dapet hidayah menulis AWOAKWOAKWOK

