Lagu, Pilar Kehidupan

0

Lagu, Pilar Kehidupan







            Pada dasarnya, setiap orang memiliki keunikan maupun perbedaan. Terbukti bahwa kita perlu penyaluran atas perasaan yang mengendap. Terlebih lagi Indonesia terdiri dari berbagai kondisi keberagaman. Keberagaman tersebut harus menjadi acuan untuk mempersatukan keteguhan Negara Indonesia. Persatuan yang diartikan sebagai bergabungnya unsur-unsur beragam menjadi satu hal utuh, juga dapat dilihat pada selera musik. Setiap orang punya selera musik yang berbeda-beda. Mungkin ada yang suka lagu K-Pop, sedangkan temanmu yang lain suka lagu rock, bahkan selera musik dengan saudara kandung bisa saja berbeda. Seorang siswa Sekolah Pelita Hati menyatakan pendapatnya tentang hal ini, “Ya, kita harus tetap toleransi dengan itu. Aku pribadi suka lagu Rohani.” Ucap Edward (14 tahun, kelas IX).


            Zaman sekarang bahkan selera musik bisa menjadi penyebab konflik keberagaman. Memang banyak faktor yang membuat sebuah lagu begitu asyik untuk dinikmati. Alunan iramanya, suara si penyanyi, vibe intrumennya atau bahkan liriknya. Inilah yang biasanya orang sebut semacam himne kehidupan karena lagu kesukaannya dirasa mampu menyampaikan perasaan hati atau secara tidak langsung bercerita tentang kehidupannya. Beberapa hal mendasari perbedaan selera musik. Mengutip dari website hellosehat, di antaranya adalah kepribadian seseorang dan produktivitas. Contoh nyata berada di kelas 9 Sekolah Pelita Hati. Mereka terdiri dari 8 murid dengan selera musik yang beragam. Mayoritas merupakan kepribadian introvert dengan selera musik yang cenderung spesifik dalam menyampaikan makna, santai serta easy listening, seperti genre R&B, Pop, Slow Rock, dan Rap. Kalau digambarkan seperti “Fix You” oleh Coldplay, “Sempurna”oleh Andra and the BackBone, atau “Lose Yourself” yang dilantunkan Eminem.


            Sementara dua orang ekstrovert lainnya memilih lagu up beat dan bersuasana sebagai selera. Genre serupa terdapat di Phonk, Hip Hop, dan Alternative Rock. Misalnya “Metamorphosis” milik INTERWORLD, “Smells Like Teen Spirit” oleh Nirvana, dan “Rockstar” yang dinyanyikan Post Malone. Aku sendiri termasuk ke dalam kategori ambivert penyuka lagu spesifik namun juga bersuasana. K-Pop, Thai Pop, bahkan Alternative/Indie layaknya makanan sehari-hari. Sudah menjadi rutinitas harian yang tidak bisa dilewatkan. Faktanya, mendengarkan lagu sembari belajar dapat membantu kaum ekstrovert dan ambivert menurunkan tekanan sehingga mereka tidak merasa terbebani akan materi dan lebih menikmati setiap prosesnya. Sebaliknya, memutar lagu untuk produktivitas bagi kaum introvert adalah tidak. Terlebih jika itu belajar, karena mereka takut terdistraksi.


            Sebagai sarana hiburan dan bahasa yang universal, menikmati musik seharusnya tidak sulit. Kalau suka, dengarkan. Kalau tidak, tinggalkan. Ada banyak faktor yang bisa membuat kita menyukai suatu lagu, seperti lingkungan sekitar, hingga suasana hati. Apa pun jenis lagu yang kamu suka, nikmatilah senandung iramanya dan buat harimu menjadi berkesan. Terlepas dari semua perbedaan, keberagaman preferensi lagu bukan alasan untuk tidak saling menghargai.











⁀➷ Catatan Kaylei

Proyek artikel PPKN 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)