Kelas Rimba;
Sekelompok manusia pengisi kepingan terakhir.
Tak kenal maka tak sayang. Waktu udah sayang ternyata beda agama. Jadi, dengan ini saya akan memperkenalkan secara singkat tentang satwa-satwa yang ada di Kelas Rimba. Pertama ada Rani. Dia ini sebenarnya masih termasuk golongan pemudi. Tapi memang agak rentan encok dan sakit aja. Alias anggota setia PRJI (Perkumpulan Remaja Jompo Indonesia).
Selanjutnya ada Ferdinand atau kerap dipanggil Didi. Beliau ini bakal sok cool banget ke orang yang belum terlalu deket. Jatuhnya sih jadi emo. Domi itu sebenernya biasa aja, cuman nada bicaranya dia emang agak nukik. Jadinya kedengeran marah. Ini kalau hantu denger bakal ketakutan parah.
"Aduh, c*unter p*in ku habis, lagi.” Dari ini udah keliatan kalau soal pegel atau encok, Kaysa lumayan mirip dengan Rani. Termasuk dalam tipe manusia kurang percaya diri dengan diri sendiri tapi punya satu album foto di handphone yang isinya foto dia semua.
Mari kita sambut bintang satwa kita — Khrisna! Semasa awal ketemu di kelas 7 dia ini memang aktif. Aktif dalam banyak cocot maksudnya. Dia ini punya pekerjaan menjadi ‘badut kelas’, katanya. Marah diam, nangis diam, senang diam, kecepirit diam, itulah Edward. Sekilas mirip robot tanpa emosi. Tapi kalau udah diusilin sama anak cowo lain bakal 11/12 seperti setan kepanasan.
Patricia ini anak multitalent. Tapi kalo lagi jatuh cinta otaknya otomatis melorot ke dengkul. Udah bucin t*lol, cinta buta pula. Walaupun begitu ia memiliki banyak bakat unik. Salah satu contoh bakatnya adalah menjadi bandar gosip terbaru. Cowok dengan tinggi di masa pertumbuhan yang merupakan fans dari pelantun Rap God ini namanya Lionell. Sering berkelakuan seakan tidak ada beban hidup, padahal kenyataannya manusia tak luput dari lika-liku kehidupan.
Setiap hubungan pasti ada bumbu penyedap. Kesalah pahaman, konflik antar individu, dan percintaan telah mereka lewati. Namun, semua itu bukanlah sebuah acuan untuk mengakhiri ikatan. Siapa sangka bahwa setapak jalan berbatu justru menguatkan pemahaman masing-masing individu tentang keselarasan dalam pertemanan.
Berada dalam sekolah yang memberikan kebebasan kreatifitas kepada muridnya berarti harus siap akan segala aktivitas internal mengenai proyek dan lomba yang mengharuskan murid untuk menuangkan sisi kreatif miliknya. Suatu ketika sekolah mengadakan lomba dekorasi antar kelas. Maka para pelopor gerakan kreativitas Kelas Rimba akan langsung bergerak membagi tugas. Ada bagian perlengkapan yaitu tim dengan tugas membeli atau menyiapkan alat dan bahan sesuai kebutuhan, dan ada bagian eksekusi yaitu tim yang bertugas untuk mengerjakan ide-ide dekorasi yang sudah ditentukan. Walau mereka terbagi menjadi beberapa tim, nantinya mereka akan kembali menjadi sebuah satu tim utuh. Sehingga semua murid dapat membantu satu sama lain tanpa ada yang tidak mendapat kerjaan.
Waktu seperti ini adalah momen di mana suasana kelas berubah ramai. Beginilah gambaran situasi lomba mendekor kelas Agustus lalu. Edward si pemotong handal biasanya akan mengerjakan bahan-bahan yang harus dipotong. Patricia sibuk mempercantik dekorasi dengan lukisannya. Tanpa banyak bicara, Rani langsung merealisasikan ide-idenya. Kemampuan Domi untuk membuat origami berbentuk kupu-kupu tentu tak mereka sia-siakan. Urusan desain grafis dan tata letak dekorasi diserahkan kepada Kaysa. Sementara Khrisna, Didi, dan Lionell digunakan sebagai tenaga kerja kuli. Intinya pekerjaan fisik berat dilakukan oleh mereka. Kerja keras tidak mengkhianati hasil. Nyatanya Kelas Rimba mampu untuk selalu memenangkan lomba pelatih kekompakan ini.
Mengingat sisa waktu kelas 9 tidak sebanyak cintaku pada Choi Soobin, maka wali kelas Kelas Rimba berusaha semaksimal mungkin menciptakan banyak kenangan berharga. Mulai dari rencana study tour hingga evaluasi lingkup pertemanan dan pembelajaran secara empat mata per-murid. Sesi ini dirasa penting oleh wali kelas karena menurut beliau serta banyak guru lain menganggap jika Kelas Rimba merupakan kelas yang memiliki chemistry rendah dibandingkan kelas lain.
Dari kegiatan ini Kelas Rimba sempat terguncang topan hebat. Terkuaknya beberapa fakta nyelekit. Ternyata banyak yang Kelas Rimba belum ahli. Begitu pula persoalan rasa yang tak mau hilang, tentang kata 'maaf', kelakukan dan harapan-harapan yang belum kunjung terwujud.
Hari itu bak ritual pengungkapan dosa. Ditambah wali kelas membuatnya nampak mendebarkan. Padahal tujuannya satu; yaitu mendekatkan hati sampai mereka paham betul apa yang dimaksud dengan 'kompak' sesungguhnya. Berharap jika setelah ini semua bentuk baik buruk pertemanan dirayakan. Tentu saja prediksinya benar. Perlahan, mereka dapat menerima perbedaan itu. Tentu saja dengan bantuan dari masing-masing murid untuk memperbaiki sifat dan perlakuan mereka. Tanpa kesadaran masing-masing jika sopan santun dasar adalah penting, mustahil mereka mencapai keadaan saat ini. Mungkin masih ada yang tak menghiraukan, tapi untuk apa mereka memusingkan itu? Yang terpenting disini banyak dari mereka yang sudah berusaha memperbaiki diri dan tak enggan membantu lainnya menjadi lebih baik lagi.
⁀➷ Catatan Kaylei
Laman blog ini diciptakan dalam rangka Penilaian Tengah Semester.
